Kain Sasirangan dan Metode Kesehatan Zaman Dahulu





Oleh: Wisesa Wirayuda


Tentu saja kita tidak asing dengan kain Sasirangan yang berasal dari Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Kata Sasirangan sendiri berasal dari kata menyirang yang berarti menjelujur, karena dikerjakan dengan cara menjelujur kemudian diikat dengan tali raffia dan selanjutnya dicelup. Hingga kini sasirangan masih dibuat secara manual.


Menurut sejarahnya, Sasirangan merupakan kain sakral warisan abad XII saat Lambung Mangkurat menjadi patih Negara Dipa. Cerita yang berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan adalah bahwa kain Sasirangan pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat setelah bertapa 40 hari 40 malam di atas rakit Balarut Banyu.


Kain Sasirangan juga merupakan kain sakral yang biasa dipakai pada upacara-upacara adat. Tidak hanya itu, kain Sasirangan juga ternyata dipercaya bisa memberikan kesembuhan bagi orang-orang yang tertimpa penyakit. Pada zaman dahulu kala kain sasirangan diberi warna sesuai dengan tujuan pembuatannya, yakni sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan suatu jenis penyakit tertentu yang diderita oleh seseorang.


Arti warna kain Sasisangan tersebut diantaranya warna kuning yang merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit kuning (wisa dalam bahasa Banjar). Warna merah yang merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit sakit kepala, dan sulit tidur (imsonia). Warna hijau yang merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit lumpuh (stroke). Warna hitam yang merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit demam dan kulit gatal-gatal. Warna ungu yang merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit sakit perut (diare, disentri, dan kolera). Dan warna coklat yang merupakan tanda simbolik bahwa pemakainya sedang dalam proses mengobati penyakit tekanan jiwa (stress).


Kain Sasirangan diberi warna dengan zat pewarna yang dibuat dari bahan-bahan yang bersifat alami, yakni dibuat dari biji, buah, daun, kulit, atau umbi tanaman yang tumbuh liar di hutan atau sengaja ditanam di sekitar tempat tinggal para pembuat kain sasirangan itu sendiri.


Supaya warnanya menjadi lebih tua, lebih muda, dan supaya tahan lama (tidak mudah pudar), bahan pewarna di atas kemudian dicampur dengan rempah-rempah lain seperti garam, jintan, lada, pala, cengkeh, jeruk nipis, kapur, tawas, cuka, atau terusi.

Sumber

21 views

ADA YANG BISA KAMI BANTU ?

TEMUKAN KAMI DI 

DAPATKAN INFO TERBARU SRIKENDES