Baduy, antara keteguhan nilai dan modernisasi.

Updated: Mar 2, 2019







Rumah, ladang, hutan, tenun, dan kesederhanaan hal yang terasa ditemui ketika berkunjung di desa Kanekes, Kecamatan Lui Damar, Kab. Lebak, Propinsi Banten. Kawasan dimana masyarakat Baduy luar tinggal.


Jika Anda ingin mengunjungi kawasan itu, bisa ditempuh menggunakan kereta jurusan Tanah Abang - Rangkas (tiket Rp 8.000, perjalanan 2 jam ). Dilanjutkan dengan angkutan umum dari kota Rangkas menuju desa, sekitar 2 jam (ongkos antara 25 ribu sampai 35 ribu per orang). Maka sampailah Anda di desa Kanekes dengan total perjalanan sekitar 4 jam dari stasiun Tanah Abang, Jakarta.




Perjalanan dari stasiun tanah abang - Rangkas bitung menggunakan commuter line

Jika Anda akan ke Baduy luar hanya membutuhkan jalan kaki 10 sampai 30 menit dari tempat perhentian bus terakhir, tetapi jika Anda ingin ke Baduy dalam, harus melakukan perjalanan kaki sekitar kurang lebih 15 KM dengan topografi jalan naik turun. Harus pastikan stamina jika ingin ke kawasan Baduy dalam.


Pada 17-18 Februari 2019, team Sri Kendes mengumpulkan cerita dalam bentuk tulisan, foto dan video dari kebudayaan masyarakat Baduy. Tujuannya kegiatan ini selain untuk "memburu" kain tenun Baduy, agar dapat mengenal lebih dekat masyarakat dar sebuah budaya, dimana kain dihasilkan.


Sehingga diharapkan, setiap pencinta dan pengguna kain-kain nusantara bukan hanya untuk mempercantik diri semata. Tetapi dapat lebih mengenal makna, kesejarahan, budaya dan manusianya dari sebuah produk kain atau baju traditional. Sehingga dapat mengetahui bagaimana diproduksi maupun dimaknai selembar kain oleh sebuah masyarakat.


Program kami ini rencananya akan kami lakukan kontiyu di banyak wilayah Indonesia yang menghasilkan kain nusantara. Karena ini konsepnya memburu kain, sambil jalan-jalan belajar budaya nusantara, maka kami beri nama programnya; "Srikendes Jali-Jali".




Pola hidup masyarakat Baduy berkelompok, mereka sangat memegang teguh nilai-nilai adat setempat. Ada banyak larangan yang tidak boleh dilakukan oleh mereka, seperti dilarang bersekolah bagi anak-anak mereka, dilarang menggunakan teknologi listrik atau teknologi lainnya (misalnya TV), dilarang menggunakan peralatan rumah berbahan plastik, dilarang membangun rumah dengan semen. Jika aturan itu dilanggar, maka akan diberikan sanksi oleh pemimpin adat, bahkan dikeluarkan dari komunitas adat.




Makan bersama yang tak terlupakan.

Kehidupan mereka memberi kesan dan pesan kuat tentang kesederhanaan dan rasa syukur pada alam yang telah memberikan kehidupan pada manusia. Masyarakat Baduy seperti memaknai hidup harus menyatu dengan alam. Apa yang alam sediakan, disitulah mereka hidup. Tak perlu berlebih apalagi sampai penuh kemewahan. Minimal kesan itu yang team Srikendes rasakan.





Walau, nilai-nilai terasa ada tarik menarik dengan masuknya perkembangan teknologi. Masyarakat Baduy sendiri, sepertinya menghadapi banyak tantangan karena harus berinteraksi dan tuntutan perkembangan jaman. Misalnya di tempat dimana kami tinggal, sebagian masyarakat menggunakan hand phone, penerangan lampu listrik untuk alasan kebutuhan.


Bahkan diantara mereka sudah ada yang memiliki account facebook ataupun Istagram untuk keperluan perluasan penjualan kerajinan Baduy. Walau menurut mereka harus sembunyi-sembunyi, tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa ada hal-hal penggunaan teknologi "dimaklumi" oleh masyarakat setempat.


Pengalaman Srikendes berinteraksi dengan mereka juga melalui komunikasi WA ataupun facebook. Misalnya account Baduy Ambu Nudin salah satu facebook yang digunakan masyarakat Baduy luar memasarkan kain tenun dan kerajinan mereka. Teman-teman jika ingin membeli langsung ataupun membantu pemasaran tenun Baduy, dapat menghubungi mereka melalui account facebooknya.





Sangat terlihat ketika akan memasuki kawasan masyarakat Baduy, keberadaan komunitas Baduy luar maupun Baduy dalam dengan "kekhasannya" menghasilkan manfaat/keuntungan besar bagi pihak luar yang bukan bagian dari masyarakat Baduy. Misalnya ada banyak toko-toko modern yang menjual kerajinan Baduy tetapi penjualnya bukan masyarakat Baduy. Bahkan ada Alfamart.



Butuh 1 sampai 4 minggu lamanya untuk membuat kain Tenun Baduy


Menenun salah satu kegiatan yang khusus dilakukan oleh para perempuan Baduy. Bahkan sejak kecil bagi anak perempuan didorong untuk belajar menenun. Walau tidak semua perempuan Baduy mampu membuat kain tenun. Kain tenun selain dipakai untuk kebutuhan sendiri, sekarang umumnya dijual kepada pihak lain (turis). Jika Anda berkunjung, di masyarakat Baduy luar banyak di depan rumah menjual hasil kerajinan mereka, termasuk madu.





Jika perempuan diperuntukan untuk menenun dan pekerjaan rumah lainnya, sedangkan anak laki-laki dididik untuk ke ladang. Atau mencari kebutuhan sehari-sehari ke ladang atau hutan, misalnya yang kami temui anak remaja laki-laki pergi mencari kayu bakar di hutan. Sedangkan anak perempuan belajar menenun. Walau yang kami temui, beberapa perempuan juga membawa kayu besar bersama suaminya untuk keperluan membangun rumah.



Masyarakat Baduy sendiri punya aturan ketat soal perkawinan, mereka hanya membolehkan perkawinan monogami. Tidak ada ruang bagi pelaku poligami. Jika sudah tidak cocok dalam perkawinan, maka berpisah, baru dibolehkan untuk menikah kembali. Sedangkan keyakinan yang dianut oleh masyarakat Baduy, mereka meyebutnya Sunda Wiwitan. Sebuah keyakinan yang dimasukan oleh pemerintah Indonesia sebagai bagian dari aliran kepercayaan.





Untuk menjaga nilai, budaya dan keyakinan mereka dipastikan tidak mudah buat mereka untuk tetap bertahan. Karena masyarakat Baduy luar makin banyak yang keluar dari komunitasnya karena beragam alasan, misalnya karena perkawinan atau hal lain. Menurut salah seorang dari mereka, belum pernah ada masyarakat luar menikah dengan masyarakat Baduy yang kemudian menetap menjadi bagian dari masyarakat Baduy. Mungkin karena tidak ada orang luar mampu hidup dengan adat masyarakat Baduy. Yang banyak terjadi justru sebaliknya, ungkap salah satu masyarakat Baduy luar.



Gadis penenun ini baru berusia 8 tahun

Ada hal yang mengkhawatirkan ketika kami temui, walau masyarakat Baduy luar dibolehkan untuk pergi ke Rumah Sakit tetapi masih banyak dari mereka tidak memikiki jaminan kesehatan (BPJS). Sehingga jika ada kasus persalinan yang mengharuskan mendapatkan layanan medis, mereka biasanya membayar sendiri.



Kakekn ini sudah berusia 100tahun lebih. Gigi2nya masih utuh, masih ngopi, masih merokok, tapi masih sehat.

Ini ironis, padahal baru-baru ini pemerintah Jokowi mengalokasi dana infrastruktur bagi masyarakat Baduy luar dan dalam, tetapi rencana itu ditolak oleh masyarakat Baduy alasan adat larangan pembangunan infrastruktur. Mungkin pemerintahkan dapat memikirkan bagaimana memindahkan sebagian alokasi dana tersebut untuk layanan BPJS bagi masyarakat Baduy luar. (Toyo/170217)




Baca juga : Batik Mega Mendung, Batik kesejukan dan kedamaian.

ADA YANG BISA KAMI BANTU ?

TEMUKAN KAMI DI 

DAPATKAN INFO TERBARU SRIKENDES